Luka Bakar


Memang salahku, menyalakan api. Api yang sudah ku buat sedari awal mentah mentah dari dua buah batu menjadi percikan api, lalu menjadi api dengan tungku-tungku kayu tersedia.
Mati matian aku menjaga api itu agar tidak padam, menaruh diriku pada buasnya hewan liar,udara yang tak menentu atau bahkan cuaca yang tak selalu cerah. Kemudian diam-diam apinya membakar tubuhku sendiri, hingga menimbulkan luka bakar pada diriku sendiri. Hingga saat ini aku masih cemas menyalakan api itu kembali. Takut membakar tubuhku lagi, karena luka bakarnya, kulitku jadi melepuh-bekasnya sukar sembuh.

Api kecil semula menghangatkan, besar meruntuhkan aku menjadi abu. Aku tidak mau menjadi luka bakar karena tubuhku masih melepuh dan api yang ku nyalakan lagi akan membakar orang lain. Sama seperti perempuan yang pernah menjadi alasan aku menjadi abu.

Aku masih ingat bagaimana pikirku masih sama menjadi tenang seperti bara yang tenang diatas kayu-kayu itu, aku masih ingat bagaimana api itu menghangatkan tubuhku yang dingin dari cuaca yang ekstrem, aku masih ingat juga rasanya terbakar sendirian kala itu.


Komentar

Postingan Populer